Budayakan Menilai Tanpa Menghakimi


imagesDalam kehidupan sehari-hari manusia takkan pernah lepas dengan berbagai macam permasalahan baik internal maupun eksternal, dan juga manusia tak pernah luput dari masalah ataupun kesalahan yang memang dibuat oleh sendirinya baik disengaja ataupun tidak. Sebagai makhluk sosial, manusia sangat membutuhkan bantuan dari sesamanya, baik itu penilaian diri, masukan, saran, kritikan ataupun motivasi-motivasi. Tak jarang manusia meminta penilaian dari teman sebayanya, sahabat, keluarga atau orang lain disekitarnya, namun seringkali teman yang diminta untuk menilai tentang dirinya cenderung menghakimi bukan menilainya, mengapa? Karena seringkali yang kata-kata yang dilontarkan merupakan kata-kata penghakiman bukanlah penilaian.

Menilai dan menghakimi nyaris dapat diartikan sama, namun sebagai seorang sahabat atau pendengar yang baik kita harus dapat membedakan mana yang disebut menghakimi dan mana yang disebut menilai agar sahabat yang sedang meminta penilaian terhadap kita tidak merasa dihakimi. Kecenderungan menghakimi seseorang dapat berakibat berkurangnya kepercayaan terhadap orang yang dimintai penilaian, karena orang yang dihakimi biasanya akan merasa terpojokkan bukan malah mendapat penilaian sebagai bahan intropeksi diri sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Coba sejenak kita membaca sepenggal kisah tentang “Orang Tua Miskin dan Kuda Putih Cantik” Cerita ini di ambil dari Buku “Snack for the Soul” karya A. Puryan Blitzer.

Jadi dahulu kala ada seorang nenek tua yang miskin dan memiliki seekor kuda putih yang cantik, karena sangat cantiknya sehingga Raja pun ingin membeli kuda itu dengan harga yang sangat tinggi, tetapi karena saking sayangnya dengan kuda itu sehingga nenek itu tidak menjual kuda putih itu. Pada suatu hari ternyata kuda putih itu di curi orang. lalu orang desa berdatangan “Wahai orang Tua Bodoh” kudamu sudah dicuri orang, padahal kalau kamu jual kamu akan mendapatkan uang banyak dan kamu akan kaya dengan keluargamu. tapi kuda itu sekarang sudah hilang, kamu dikutuk oleh kemalangan.

Nenek itu menjawab: “Jangan bicara terlalu cepat, katakan saja bahwa kuda itu tidak ada di kandang, itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana kamu dapat mengetahui itu? bagaimana kamu dapat menghakimi?” Orang Orang desa itu protes “Jangan menggambarkan kami orang bodoh. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan”

Nenek itu menjawab lagi: Yang saya tahu bahwa kandang itu kosong, apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Orang-Orang Desa tertawa dan mengatakan nenek tua itu bodoh, kalo dia jual kuda itu pasti dia akan hidup kaya-raya.

Setelah 15 hari, kuda itu kembali. Ternyata kuda itu tidak dicuri tetapi lepas dan lari ke hutan. tidak hanya kembali tetapi kuda itu juga membawa selusin kuda liar dari hutan yang ikut bersamanya. mengetahui hal itu orang desa kemabli ketempat Nenek tua itu.

“Orang tua, anda benar dan kami salah. yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. maafkan kami” Namun, apa jawaban nenek tua itu? “Sekali lagi kalian bertindak gegabah. katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. katakan saja selusin kuda balik bersamanya, tetapi jangan menilai. bagaimana kalian tahu bahwa ini berkat? kalian hanya melihat sepotong saja. kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita” Orang-Orang desa tidak banyak berkata-kata lagi, tetapi dalam hati mereka bahwa orang tua itu salah, dengan menjinakkan 12 kuda itu lalu dijual maka nenek tua itu akan menjadi banyak uang.

Orang Tua itu mempunyai anak laki-laki, dan anak laki-laki itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi berkumpuk di sekitar orang tua itu dan menilai.

“Engkau benar, orang tua” kata mereka “engkau sudah membuktikan bahwa perkataanmu memang benar. selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu telah patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak punya siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi.

Nenek tua itu berbicara lagi “Ya, Kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai dan menghakimi. jangan keterlaluan. katakan saja bahwa anakku patah kaki. Siapa yang tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita, Hidup ini adalah sepotong-sepotong”

Maka, terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua yang tidak diminta karena patah kaki. Sekali lagi orang-orang desa berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali.

“Engkau benar orang tua” Mereka menangis, “Tuhan tahu, Engkau benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. kakinya patah, tetapi paling tidak ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya”

Orang tua itu berbicara lagi, “Susah sekali berbicara dengan kalian. kalian selalu menarik kesimpulan. Padahal tidak ada yang tahu kejadian seutuhnya. Katakan saja anak-anak kalian pergi berperang dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah berkat dan kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengatahui. Hanya Tuhan yang tahu”.

Dari kisah diatas kita sudah bisa membedakan bagaimana cara menilai dan bagaimana cara menghakimi, namun walaupun begitu kita pun sulit untuk tidak menyandingkan kata menghakimi setelah kata menilai karena seringkali setelah menilai seseorang kita cenderung akan menghakiminya, misalkan ketika dalam sebuah forum kita disuruh untuk mengemukakan sebuah pendapat, namun seseorang tidak sepakat dengan pendapat itu maka kita menilai seseorang tersebut tidak berada dipihak kita dan mulai menghakimi bahwa dia adalah orang yang salah, penghambat ide dan perusak rencana, kemudia orang itupun akan dimusuhi dan disingkirkan.

Sekarang coba kita perhatikan perbedaan menilai dan menghakimi? Menurut Terry D. Cooper perbedaan menilai dan menghakimi dapat digambarkan dalam table berikut ini :

Penilaian yang sehat

Sikap yang menghakimi

Ada Perhatian: penilaian sehat melibatkan perhatian kepada orang lain. Sikap menghakimi tidak memperhatikan orang lain.
Kepercayaan: Penilaian yang sehat menolak untuk tidak mempercayai motif orang lain kecuali ada bukti yang kuat. Sikap menghakimi menganggap mengetahui motif orang lain tanpa bukti yang masuk akal
Toleransi: Penilaian yang sehat melibatkan konsep moral dan agama dengan mereka yang berbeda dengannya. Sikap menghakimi berkeras untuk berpegang teguh pada konsep moral dan agama tanpa sikap menghargai dan toleransi pada mereka yang berbeda.
Tingkah laku vs orang: Penilaian yang sehat meminta pengutukan dari tingkah laku yang menyakitkan atau ide yang tidak benar Sikap yang menghakimi mengecam orang yang melekat pada ide yang tidak benar atau tingkah laku yang merusak.
Terbuka: Penilaian yang sehat mengenali masalah-masalah yang tidak terselesaikan dengan sudut pandangnya sendiri. Penilaian ini dilakukan setelah mempelajari bahwa seseorang dapat mempunyai pendirian tanpa memiliki kepastian sehingga dapat terbuka pada perspektif orang lain. Sikap yang menghakimi menolak untuk mengenali masalah atau keterbatasan dengan sudut pandangnya sendiri. Ia berkeras pada kepastian absolute.
Waktu: Penilaian yang sehat merupakan proses logika dari mengevaluasi bukti dan mengambil keputusan yang telah dipikirkan dengan baik. Sikap menghakimi adalah berlogika emosional, yang membuat keputusan seketika berdasarkan bukti palsu.
Tidak takut:  Penilaian yang sehat adalah hasil yang dilakukan dari pemikiran hati-hati, reflektif dan tanda dari pikiran yang tidak takut untuk memutuskan. Sikap menghakimi adalah hasil dari pemikiran ceroboh, tidak reflektif, dan tanda dari pikiran yang khawatir untuk berpikir analis.

Nah, mulai sekarang biasakanlah menilai seseorang dengan penilaian yang sehat tanpa adanya penghakiman didalamnya. Selamat menjadi pendengar curhat dan penasehat yang yang setia.

Advertisements

About Admin

Menyelami Dunia Aktivis...

Posted on 10 January 2014, in ARTIKEL, BELAJAR, ISENG-ISENG, PEMIKIRAN BIASA and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NALAR PSIKOLOGI

Mengungkap Istilah, Konsep Teori para Tokoh Psikologi, serta Rekam Jejaknya dalam Lantunan Sejarah, Perkembangan, hingga Masa Kejayaan

KINI IN ACTION

Kembali Ke Islam, Kembali Ke Fitrah

ARTLESSLY FIT

Health & fitness in the most simple, cost-effective and straightforward ways

MEDITASITE

Fadlur Rahman Official Site

Obat Ambeien Indonesia

Mengobati Ambeien Atau Wasir Dengan Cepat Dan Aman Yakni Ace Maxs Obat Herbal Berkhasiat Tinggi

Jari Manis Indonesia

Aktivasi kekuatan Pikiran

Mega Putih Outbound Provider

Your Partner Of Improvement!

Wisata Kuliner Arema

Find Food For Mood

Melancholia

a pleasure of being sad.

Tips dan Tricks

Indahnya Bebagi

%d bloggers like this: